Pertambahan Usia 32 Tahun: Pelajaran, Ketakutan, dan Motivasi

Umur Bertambah

Langsung saja kita membahas pertambahan usia—sesuatu yang pasti akan menghampiri setiap orang yang masih ditakdirkan hidup, termasuk detik ini. Saat saya menulis ini, bayangan tentang hari ulang tahun saya yang akan tiba dalam beberapa jam mendatang semakin nyata.

Seperti kebanyakan orang yang memasuki usia matang, pikiran saya tiba‑tiba berkontemplasi layaknya seorang filsuf yang mencoba memaknai hidup. Ada perasaan biasa saja; ada pula dorongan untuk meraih pencapaian luar biasa di tahun berikutnya—mungkin menjadi miliarder, misalnya. Meski begitu, gelombang perasaan campur aduk ini wajar dirasakan saat usia mulai mendekati puncaknya, apalagi ketika tanggung jawab dan harapan orang lain ikut menanti.

Jika ditanya apakah cara berpikir saya sekarang berbeda dari beberapa tahun lalu, saya akan menjawab, “Ya.” Berbagai faktor memengaruhi: tumpukan buku bacaan dan wawasan motivator menjadi konsumsi sehari‑hari. Uniknya, membaca baru menjadi hobi di usia tiga puluhan—padahal sebelumnya satu atau dua halaman saja bisa membuat mata saya mengantuk. Saya pun gemar menyimak podcast atau khutbah singkat saat berkendara menuju kantor. Saya ingin setiap pagi diisi oleh sesuatu yang menantang otak untuk selalu mempelajari hal baru.

Mari kita kembali ke topik pertambahan usia agar judul dan isi tulisan ini selaras—demikian nasihat para penulis handal.

Pandangan saya soal menua kini lebih banyak diwarnai ketakutan kompleks jika terlalu dipikirkan habis‑habisan. Misalnya, apakah saya akan selamat mencapai usia baru nanti? Apakah keluarga saya masih akan menjadi sandaran hati? Bagaimana jika orang tua mulai menunjukkan keriput tanda usia? Lalu, mampukah saya mewujudkan mimpi berkeliling dunia sebelum usia empat puluhan? Atau, apakah dana untuk melanjutkan studi S2 akan cukup? Kekhawatiran‑kekhawatiran inilah yang sering menyeruak menjelang pergantian hari.

Namun, apapun itu, pelajaran waktu membuat kita belajar beradaptasi dengan setiap tahun yang bertambah. Ketika peran hidup bertambah, banyak keinginan terpaksa dilontar dan keinginan baru lahir untuk ditunaikan. Bagi saya, pertambahan usia justru menambah semangat juang: rasa takut dan was‑was wajar, namun di setiap getar hati selalu ada keyakinan bahwa kita bisa melewatinya.

Bayangkan jika mesin waktu benar‑benar ada—mungkin kita tergoda mengubah kesalahan masa lalu. Padahal, kegagalan justru memperkuat kita untuk belajar. Inilah hal yang perlu ditekankan saat keraguan usia merasuk.

Mengutip Simone de Beauvoir—agar tulisan ini makin kokoh—ia menyarankan agar menghadapi pertambahan usia dengan fokus pada karya dan kerja. Mungkin saran ini layak dicoba agar kita tak terjebak keraguan.

Oke, detik‑detik pergantian hari sudah di depan mata. Sekian dulu tulisan mendadak ini, untuk diri saya sendiri yang akan resmi menjejak usia 32 tahun.

Komentar