Halo Pedinas!
Postingan kali ini saya akan menarasikan pengalaman pertama saya berdinas di Kalimantan Barat, tapatnya di Kota Singkawang yang terkenal dengan sebutan Kota Amoy, sebelumnya yuk simak sedikit postingan video.
Oke kita mulai, perjalanan dinas saya ke Singkawang sekitar bulan Maret 2019,mendarat di Ibukota Kalbar Pontinak, saya dan rekan-rekan sempat menikmati suguhan kopi jalanan Pontinak sebelum melanjutkan perjalanan 145 km ke Singkawang selama empat jam di Siang Hari.
Sayangnya, saya tidak punya cukup waktu untuk menikmati Pontianak secara utuh, padahal banyak tempat iconic yang bisa menjadi narasi cerita, tetapi kewajiban pekerjaan mengharuskan saya dan rombongan untuk melanjutkan perjalanan panjang.
Sepanjang perjalanan saya menikmati kota Pontianak dan kabupaten-kabupaten yang hampir selalu berbatasan dengan sungai dan juga laut, satu hal yang menarik saya baru tahu kalau jembatan disini disebut dengan "Tol". Sebagai mana yang kita ketahui bersama Kota Khatulistiwa seperti Pontinak dan Kalimantan Barat secara umum pasti panas dan bikin gerah, jadi siap-siap saja pasang ac yang dingin selama perjalanan.
Sesampainya di Kota Singkawang tepatnya pukul tujuh malam, saya sangat tergelitik dengan bangunan-bangunan tua yang bernuansa China, lalu masyarakat yang kebanyakan adalah keturunan China membuat Singkawang terasa unik dan spesial, apalagi ketika berpapasan dengan Amoy-amoy nan cantik yang menambah manis kota ini.
Singkat cerita saya menghabiskan waktu empat hari di Kota Singkawang dalam kegiatan dinas, tiga hari pertama saat kegiatan saya berkutat dengan kewajiban, menginap di Hotel yang kebetulan memiliki Mall tidak membuat jenuh walau kegiatan cukup padat.
Sampai di hari terakhir, dimana kegiatan telah selesai. Naluri exploring saya mulai bergejolak dan kami memutuskan untuk menikmati malam hari keliling Kota Singkawang.
Vihara Tri Dharma Bumi Raya yang menjadi tempat paling iconic di Singkawang menjadi sasaran kamera saya dan teman-teman, dimana nuansa China sangat kental terasa, bangunan-bangunan tua yang bernarasikan tulisan mandarin menambah apik hasil jepretan kami.
Satu hal yang membuat saya kagum, yaitu budaya ngopi yang banyak digemari masyarakat disini, hampir di setiap sudut jalan ada kedai kopi yang selalu dipenuhi oleh masyarakat khususnya mud-mudi.
Tak lupa juga malam itu kami mengahbiskan waktu di sebuah kedai kopi yang sudah berdiri sejak 1955 yaitu Rusen Kopitiam, saya sangat menikmati nuansa disini dimana riuh masyarakat sembari tertawa dan menikmati secangkir Kopi dan Roti Sarikaya menghangatkan malam saat itu.
Kebiasaan saya jika melakukan perjalan dinas adalah menjadikan supir (sewa) menjadi guide, sayapun bertanya banyak hal ketika mengantarkan kami ketempat-tempat yang fotogenic di kota yang menjadi salah satu kota dengan tingkat toleransi umat beragama di Indonesia. Banyak info yang saya dapat salah satunya adalah Festival Cap Go Meh yang diadakan setahun sekali, beliau (Supir) meceritakan pada saat itu akan menjadi hari paling meriah se kota Singkawang dan berhasil memikat banyak wisatawan lokal maupun internasional.
Tak lupa dalam perjalanan puang ke hotel kami menikmati Mie Tiaw khas Singkawang dimana mie berbentuk pipih seperti kwetiau, diolah dengan kecap, tauge, telur, daun cengkok manis, dan perasan jeruk nipis. Soal rasa, tidak perlu diragukan, lamak bana!



Komentar
Posting Komentar
Berikan yang terbaik!